Dari Masyarakat, untuk Masyarakat, dan oleh Masyarakat, begitulah spirit yang dibawa oleh mahasiswa KKN-PPM UGM dalam menginisiasi terselenggaranya Festival Rakyat Bunaken. Perhelatan ini berlangsung pada 1-2 Agustus 2025, menghadirkan rangkaian acara yang meriah: Panggung Rakyat Bunaken, Bazaar UMKM, Lomba Fashion Show, Mini Talkshow, hingga Pameran Foto Bunaken dalam Bingkai.
Bekerja sama dengan Pemerintah Kota Manado, festival ini juga mengundang Nyong Nona Manado sebagai representasi pemuda-pemudi untuk memamerkan keindahan Batik khas Manado. Dukungan datang dari Suzuki Marine Manado sebagai sponsor utama dan Siloam Hospital Manado yang menghadirkan layanan medical checkup gratis bagi masyarakat.

Sejak pagi, suasana dermaga utama Bunaken sudah ramai. Ada yang sibuk menata lapak di Bazaar UMKM, ada pula yang mempersiapkan penampilan di Panggung Rakyat Bunaken. Tarian adat Cakalele, musik bambu taman laut, hingga tembang khas Manado menghidupkan suasana. Wisatawan mancanegara pun tak ragu ikut bernyanyi, sementara ibu-ibu lokal larut berjoget line dance ditemani dentuman musik DJ Manado.
Salah satu momen yang paling menyedot perhatian adalah Lomba Fashion Show yang dijuri langsung oleh Nyong Nona Manado. Mengusung tema “Nelayan”, para peserta memvisualisasikan kehidupan sehari-hari nelayan dari melaut, menyiapkan perahu, hingga mengolah hasil tangkapan ke dalam busana penuh kreativitas yang sarat akan makna. Panggung seolah menjadi catwalk yang mengisahkan cerita hidup masyarakat pesisir, memadukan tradisi dengan sentuhan modern. Sorak sorai penonton, dari warga lokal sampai turis asing, mengiringi setiap langkah peserta.

Tidak kalah menarik, Mini Talkshow menghadirkan topik “Sejarah Bakudapa Bunaken Kepulauan” dengan empat narasumber penting: tokoh adat Buk Laurens, tokoh agama Ibu Hasan dan Bapak Paulus Caroles, serta tokoh akademis dari Universitas Sam Ratulangi, Ivan Kaunang, S.S., M.Hum. Mereka membagikan kisah dari kacamata adat dan agama, mengajak pendengar menyelami sejarah panjang Bunaken, memahami akar budaya, serta nilai-nilai yang terus dijaga hingga kini.
Sementara itu, Pameran Foto “Bunaken dalam Bingkai” menjadi titik yang selalu ramai didatangi pengunjung. Berlokasi di Dermaga Utama Bunaken, puluhan foto terpajang rapi, menghadirkan potret kehidupan sehari-hari masyarakat pulau. Ada potret anak-anak yang tertawa riang bermain, nelayan pulang membawa hasil bajubi dengan wajah lelah bercampur lega, ibu-ibu yang asyik bergosip di bawah rindangnya pohon kelapa, hingga potret tokoh masyarakat dan bangunan-bangunan bersejarah di wilayah Bunaken Kepulauan. Setiap foto tidak hanya memamerkan momen, tetapi juga menyimpan cerita. Foto-foto itu menjadi saksi bisu bahwa pesona Bunaken tak semata ada di birunya laut dan terumbu karang, melainkan juga padakehidupan, interaksi, dan kehangatan warganya. Bagi banyak pengunjung, pameran ini menjadi
kesempatan untuk mengenal Bunaken dari sudut pandang yang lebih personal, melihat wajahwajah, rutinitas, dan kebersamaan yang menjadi denyut nadi pulau ini.

Festival Rakyat Bunaken tahun ini membuktikan bahwa pariwisata tidak hanya tentang atraksi, tetapi juga tentang cerita, manusia, dan kebersamaan yang ada di dalamnya. Dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, festival ini menjadi ajang untuk merayakan identitas, mempererat ikatan, dan memperkenalkan kekayaan budaya Bunaken ke mata dunia.
Penulis: Skolastika Cinta Febrien Trinanda





