Kampanye “Bebas Mata SePeLe” dorong kesadaran soal kondisi yang sering dianggap sepele, hadirkan solusi sesuai kebutuhan masyarakat perkotaan di seluruh nusantara
MANADO, detikgo.com – Saat mata terasa sepet, perih, atau mudah lelah setelah beraktivitas seharian, sebagian besar orang akan langsung menyalahkannya pada kelelahan atau kurang tidur. Namun di balik keluhan yang sering dianggap remeh itu, tersembunyi risiko masalah kesehatan mata yang kini semakin meluas di berbagai kota besar Indonesia: mata kering. Di era di mana kehidupan sangat erat dengan teknologi digital – mulai dari urusan kerja, pendidikan, hingga interaksi sosial yang sebagian besar dilakukan melalui layar – kasus ini tidak hanya menjadi perhatian di wilayah Jabodetabek dan Bandung, namun juga mulai menunjukkan tren yang signifikan di Kota Manado, yang lebih dikenal sebagai Kota Toleransi atau Kota Tinutuan karena keragaman budaya dan kelezatan kuliner khasnya seperti Tinutuan dan Cakalang Fufu.
Data yang pernah dipublikasikan menunjukkan bahwa di wilayah Jabodetabek dan Bandung, sekitar 41% penduduk atau setara dengan 4 dari 10 orang mengalami kondisi mata kering, dengan sebagian besar tidak menyadari bahwa mereka sedang menghadapi masalah pada sistem penglihatan mereka (Study to Identify Growth Opportunities: Findings Presentation, 2024). Survei tersebut memang fokus pada wilayah Jawa Barat dan Jakarta, namun observasi terhadap kondisi kesehatan mata di Manado menunjukkan bahwa fenomena serupa mulai muncul dengan skala yang cukup mengkhawatirkan.

Di Kota Manado yang tengah mengalami perkembangan pesat di sektor pariwisata, perdagangan, dan pendidikan, gaya hidup yang semakin terhubung dengan teknologi menjadi salah satu pemicu utama. Banyak pekerja di kawasan bisnis Manado menghabiskan waktu hingga 8-10 jam sehari di depan layar komputer. Pelajar dan mahasiswa dari berbagai institusi seperti Universitas Sam Ratulangi, Politeknik Negeri Manado, dan Universitas Negeri Manado, juga semakin bergantung pada perangkat elektronik untuk mengakses materi pembelajaran dan menyelesaikan tugas akademik. Bahkan para pengusaha mikro yang berjualan di pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan kini mulai menggunakan smartphone untuk mengelola penjualan dan pemasaran produk mereka melalui platform digital.
Selain itu, karakteristik Kota Manado yang semakin modern juga berkontribusi pada peningkatan kasus mata kering. Hampir semua ruangan kantor, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hingga tempat ibadah di Manado menggunakan pendingin ruangan dengan suhu yang seringkali diatur di bawah 24 derajat Celsius. Kondisi ini membuat lapisan pelindung alami di permukaan mata yang terdiri dari air, minyak, dan lendir – menguap lebih cepat. Ditambah lagi dengan tingkat polusi udara yang meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor, serta paparan sinar matahari yang cukup intens di daerah tropis seperti Indonesia, membuat risiko masalah mata semakin tinggi.
Faktor Risiko yang Khusus untuk Masyarakat Manado
Masyarakat Manado memiliki beberapa karakteristik yang membuat mereka berisiko mengalami mata kering. Sebagai kota pariwisata utama di Sulawesi Utara, banyak orang yang bekerja di sektor ini, mulai dari pemandu wisata, pekerja hotel, hingga content creator yang aktif mempromosikan berbagai destinasi seperti Taman Nasional Bunaken, Danau Tondano, Danau Linow, dan Taman Nasional Tangkoko. Para profesional ini seringkali harus bekerja dengan fokus tinggi pada kamera dan layar smartphone untuk mengambil foto dan video, serta mengelola konten digital yang dibutuhkan untuk menarik wisatawan.
Kelompok lain yang berisiko tinggi adalah para sopir yang menjelajahi jalan raya Manado setiap hari, baik yang bekerja di perusahaan transportasi umum maupun sebagai pengemudi ojek online. Mereka harus terus-menerus melihat layar navigasi guna menemukan rute tercepat dan menghindari kemacetan yang sering terjadi di kawasan pusat kota. Bahkan para nelayan dan petani yang kini mulai menggunakan teknologi untuk memantau cuaca dan harga komoditas juga tidak luput dari risiko paparan layar yang berlebihan.

Salah satu contoh nyata yang terjadi di Manado adalah pengalaman Reinhard Samadi, seorang pegiat pariwisata yang telah lebih dari 5 tahun aktif dalam mengembangkan potensi wisata lokal. “Saat awal mengembangkan bisnis pariwisata saya, saya sering bekerja hingga larut malam untuk menyusun paket perjalanan, mengedit foto dan video destinasi wisata, serta berkomunikasi dengan calon wisatawan melalui berbagai platform online. Mata saya sering terasa berat dan sepet, tapi saya selalu menganggapnya hanya karena terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat,” cerita Reinhard saat ditemui di Pondok Wisata Noah yang ia kelola di Likupang, Selasa (13/1/2026).
Kondisi matanya semakin memburuk hingga dia kesulitan untuk melihat detail kecil pada foto-foto yang ia edit dan sering mengalami kesalahan dalam mengetik pesan kepada mitra usaha. Hingga akhirnya dia menemukan postingan Kampanye “Bebas Mata SePeLe” di salah satu akun media sosial resmi INSTO, Reinhard menyadari bahwa keluhan yang ia alami adalah gejala mata kering. Setelah berkonsultasi dengan dokter spesialis mata dan mengubah beberapa kebiasaan kerja serta menggunakan produk pelumas mata INSTO untuk mengatasi keluhan yang ia rasakan, kondisinya kini sudah membaik secara signifikan.
Kasus serupa juga dialami oleh Michael seorang mahasiswa semester akhir di jurusan Administrasi Bisnis Politeknik Negeri Manado. “Saya harus menyelesaikan skripsi yang membutuhkan banyak penelitian online dan pengolahan data menggunakan komputer. Selain itu, saya juga mengikuti beberapa kelas daring untuk meningkatkan keterampilan saya dalam bidang digital marketing. Akhirnya mata saya sering terasa perih dan seperti ada pasir yang masuk, terutama saat bangun tidur pagi hari,” ungkap Michael.
Setelah berkonsultasi dengan dokter di klinik kesehatan mata, Michael mengetahui bahwa dirinya mengalami mata kering tingkat ringan. Dengan melakukan perubahan pola hidup seperti lebih sering beristirahat saat menggunakan layar, menerapkan aturan 20-20-20 (setiap 20 menit melihat objek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik), dan menggunakan produk tetes mata INSTO yang direkomendasikan dokter, kini keluhan matanya sudah jarang muncul dan produktivitasnya dalam belajar juga meningkat.
Pemahaman yang Rendah Jadi Hambatan Utama
Meskipun kasus mata kering mulai banyak ditemukan di Manado, rendahnya pemahaman masyarakat tentang kondisi ini menjadi tantangan utama dalam penanganannya. Banyak orang yang mengira bahwa keluhan pada mata hanya bersifat sementara dan akan hilang dengan sendirinya setelah cukup beristirahat. Bahkan sebagian yang sudah menyadari bahwa mereka mengalami masalah mata kering seringkali salah dalam memilih produk penanganannya, seperti menggunakan tetes mata yang diformulasikan untuk iritasi merah pada kasus mata kering yang sebenarnya membutuhkan pelumas yang sesuai.
“We melihat bahwa rendahnya kesadaran menjadi faktor utama yang membuat banyak orang menganggap keluhan mata sebagai hal yang sepele,” ujar Weitarsa Hendarto, Direktur PT Combiphar dalam salah satu kesempatan temu media yang juga diikuti oleh sejumlah awak media dari berbagai daerah di Indonesia. “Padahal jika tidak ditangani dengan benar, masalah mata kering bisa mengganggu produktivitas dan bahkan kualitas hidup seseorang, baik itu dalam bekerja, belajar, maupun menikmati aktivitas sehari-hari seperti mengemudi atau menikmati keindahan alam sekitar kita,” tambahnya (Siaran Pers INSTO, 2025).

Farah Feddia, GM Eye Care Combiphar, menambahkan bahwa berdasarkan hasil riset yang dilakukan, banyak orang yang salah mengelola keluhan mata mereka karena kurangnya informasi yang benar. “Di wilayah Jabodetabek dan Bandung saja, separuh dari mereka yang mengalami mata kering tidak menyadari kondisinya, sebagian orang yang sudah mengetahui kondisinya malah salah mengambil tindakan atau menggunakan produk yang tidak sesuai,” jelasnya (Siaran Pers INSTO, 2025).
Menurut Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, seorang dokter spesialis mata yang sering melakukan kunjungan ke berbagai klinik, gejala mata kering seringkali tidak langsung terlihat sebagai masalah serius karena munculnya secara bertahap. “Gejala awal seperti mata sepet, perih, dan mudah lelah memang sering dianggap sebagai akibat kelelahan biasa. Namun jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah yang lebih serius seperti peradangan pada kelopak mata, kerusakan pada permukaan kornea, hingga gangguan penglihatan yang lebih kompleks,” papar Dr. Eka saat memberikan edukasi tentang kesehatan mata. (Siaran Pers INSTO, 2025).
Selain gejala utama tersebut, ada beberapa tanda lain yang perlu diwaspadai seperti rasa ada benda asing di dalam mata, kemerahan yang tidak kunjung sembuh, sensitivitas terhadap cahaya, hingga kesulitan membuka mata setelah tidur karena rasa lengket pada kelopak mata. Setiap individu dapat mengalami kombinasi gejala yang berbeda-beda, sehingga penanganannya juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Solusi yang Sesuai dengan Kebutuhan Masyarakat Modern
Untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin terdampak oleh masalah mata kering, INSTO – merek yang telah dikenal masyarakat Indonesia selama lebih dari lima dekade – menghadirkan produk khusus yang diformulasikan untuk menangani kondisi ini: INSTO Dry Eyes. Produk ini dirancang dengan memperhatikan karakteristik mata orang Indonesia yang hidup di iklim tropis, dengan menggunakan bahan aktif Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) yang telah diakui secara internasional sebagai bahan yang efektif untuk menangani mata kering (Dean, 2023).
Bahan HPMC sendiri bahkan telah diajukan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pedoman terapi untuk masalah mata kering di seluruh dunia. Keunggulan dari bahan ini adalah kemampuannya untuk memberikan kelembapan yang optimal pada permukaan mata dan membentuk lapisan pelindung yang menyerupai air mata alami, sehingga mampu melindungi kornea dari kerusakan dan mengurangi rasa tidak nyaman.

“Kami merancang INSTO Dry Eyes dengan mempertimbangkan berbagai kebutuhan aktivitas masyarakat modern. Kemasan yang praktis dengan ukuran 7,5 ml membuatnya mudah dibawa kemana saja – baik ke kantor, kampus, atau saat melakukan perjalanan wisata,” jelas tim produk INSTO. “Selain itu, produk ini tidak mengandung pengawet yang berpotensi menyebabkan iritasi, sehingga aman digunakan oleh sebagian besar orang bahkan mereka yang menggunakan lensa kontak setiap hari,” tambahnya (Siaran Pers INSTO, 2025).
Selain INSTO Dry Eyes, terdapat juga varian produk lain yang dapat menjawab kebutuhan mata yang berbeda. INSTO Regular diformulasikan untuk mengatasi kemerahan dan perih akibat iritasi ringan akibat debu atau polusi, sementara INSTO Cool memberikan rasa segar yang menyegarkan untuk mata yang lelah akibat penggunaan layar dalam waktu lama. Keberadaan produk-produk ini di pasaran Manado juga semakin mudah ditemukan, baik di apotek resmi maupun toko kesehatan yang tersebar di berbagai kecamatan kota.
Selain penggunaan produk yang sesuai, terdapat beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan mata dan mencegah munculnya masalah mata kering. Salah satunya adalah menjaga pola hidup sehat dengan cukup tidur setiap hari minimal 7-8 jam agar mata dapat beristirahat dengan optimal. Konsumsi makanan yang kaya akan nutrisi untuk mata seperti ikan laut khas Sulawesi Utara yang mengandung omega-3, sayuran hijau seperti bayam dan kangkung, serta buah-buahan seperti pepaya dan wortel juga sangat disarankan.
Bagi mereka yang sering bekerja dengan layar, menerapkan aturan istirahat secara teratur sangat penting. Selain aturan 20-20-20, disarankan juga untuk melakukan latihan berkedip secara teratur agar lapisan air mata dapat merata di permukaan mata. Menghindari paparan polusi dan sinar matahari secara berlebihan dengan menggunakan kacamata pelindung juga dapat membantu menjaga kesehatan mata.
Pemeriksaan mata secara rutin setiap 6 bulan hingga 1 tahun ke dokter spesialis mata juga sangat penting untuk mendeteksi masalah sejak dini. Di Manado, kini sudah banyak fasilitas kesehatan mata yang menyediakan layanan pemeriksaan komprehensif, mulai dari rumah sakit umum hingga klinik spesialis mata yang memiliki peralatan modern untuk mendiagnosis berbagai masalah kesehatan mata.
“Kami percaya bahwa menjaga kesehatan mata adalah investasi penting untuk masa depan yang lebih baik. Kampanye ‘Bebas Mata SePeLe’ bukan hanya tentang memberikan solusi produk, namun juga tentang meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa keluhan mata yang dianggap sepele bisa menjadi masalah serius jika tidak ditangani dengan benar,” tutup Weitarsa Hendarto. “Kami berharap melalui kampanye ini, masyarakat di seluruh Indonesia dapat lebih peduli dengan kesehatan mata mereka dan hidup lebih produktif serta bahagia,” pungkasnya (Siaran Pers INSTO, 2025).
Bagi masyarakat Manado yang ingin mengetahui lebih banyak tentang kampanye “Bebas Mata SePeLe” atau cara menjaga kesehatan mata, dapat mengakses informasi melalui situs resmi Combiphar di www.combiphar.com atau mengikuti akun media sosial resmi INSTO yang sering membagikan tips kesehatan mata dan informasi tentang kegiatan edukasi yang akan diadakan di berbagai kota, termasuk Manado.





