BOLMONG, detikgo.com – Di tengah sorotan publik terkait pengelolaan keuangan, SMK Negeri 1 Mopuya justru menampilkan sisi lain: kreativitas luar biasa siswanya. Pada Senin (25/5/2026), sekolah menggelar ajang perdana “Lomba Fashion Show dan Pameran Kerajinan Tangan” khusus untuk siswa kelas X dari semua jurusan, sebagai bagian dari implementasi mata pelajaran Seni Budaya dalam kerangka Kurikulum Merdeka.
Kegiatan yang berlangsung di lapangan utama sekolah ini dibuka langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah, Dwi Retnowati, S.Pd., M.Pd., yang didampingi para guru dan disaksikan ratusan siswa. Acara dimulai dengan penampilan tarian kreasi berlatar lagu daerah Bolaang Mongondow yang dibawakan secara atraktif oleh sekelompok siswa, menciptakan suasana meriah sejak awal.
Dalam sambutannya, Plt Kepala Sekolah menyatakan kegiatan ini merupakan bentuk nyata penerapan Kurikulum Merdeka, sekaligus wadah bagi siswa untuk mengekspresikan bakat seni dan keterampilan tangan. Beliau juga menyampaikan pesan motivasi langsung kepada para siswa:
“Kegiatan ini pertama kali kami adakan. Tujuannya sederhana: mengasah minat, bakat, dan keterampilan kalian melalui pendekatan seni budaya. Kami ingin kalian tahu bahwa sampah pun bisa jadi karya indah. Biarkan imajinasi kalian bebas terbang karena di balik setiap potongan plastik, kertas, atau kain, ada potensi menjadi mahakarya yang membanggakan.”
Lebih lanjut Plt Kepala Sekolah juga memberikan apresiasi dan motivasi kepada para guru yang terlibat: “Kepada para guru, terima kasih atas dedikasi kalian mendampingi siswa bukan hanya di kelas, tapi juga di lapangan. Kalian adalah jembatan antara teori dan praktik, antara kurikulum dan kehidupan nyata. Teruslah dukung kreativitas mereka karena di sanalah letak jiwa pendidikan yang sesungguhnya.”
Acara kemudian dilanjutkan dengan dua kategori lomba utama:
- Fashion Show: Busana daur ulang spektakuler dari bahan bekas seperti plastik, kertas, kain perca, hingga tutup botol mineral. Beberapa desain bahkan dilengkapi aksesoris unik seperti mahkota, payung hias, dan tongkat emas.
- Pameran Kerajinan Tangan: Termasuk bunga dari kawat bulu, gantungan kunci, tas dari tutup botol, hiasan dinding, dan aksesori fashion lainnya.
Para penonton tampak antusias menyaksikan setiap penampilan, terutama saat busana-busana megah melenggang di atas panggung sederhana yang diiringi musik latar yang pas dengan suasana. Desain-desain seperti gaun berlapis-lapis dari kantong plastik pink, gaun biru putih dengan motif bunga, serta gaun emas dengan tongkat kerajaan, mendapat tepuk tangan meriah karena keunikannya.
Setelah seluruh peserta tampil, dewan juri yang terdiri dari guru Seni Budaya dan para guru lainnya mengumumkan pemenang. Hadiah berupa uang tunai dan sertifikat diserahkan langsung oleh Plt Kepala Sekolah kepada para juara.
Salah satu peserta lomba dari kelas X Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan mengaku senang bisa ikut serta. “Awalnya ragu, takut jelek. Tapi ternyata seru! Saya pakai baju dari kantong kresek dan bahan daur ulang lainnya. Ternyata bisa jadi cantik,” katanya sambil tersenyum.
Guru Seni Budaya menambahkan bahwa kegiatan ini dirancang agar siswa tidak hanya fokus pada teori, tapi juga praktik langsung. “Kami ingin mereka lihat bahwa seni itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan dari sampah, kita bisa ciptakan nilai estetika dan ekonomi,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi saksi bahwa kreativitas siswa SMKN 1 Mopuya memang nyata dan patut diapresiasi. Namun, kemeriahan acara ini tidak boleh serta-merta mengaburkan atau menghilangkan jejak polemik administrasi dan keuangan yang sebelumnya terungkap.
Kreativitas siswa dalam mengubah sampah menjadi karya indah adalah bukti potensi pendidikan yang luar biasa, tetapi hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap dugaan ketidakberesan tata kelola dana. Kedua hal ini harus berjalan pada jalurnya masing-masing: siswa terus diberi ruang berkarya, sementara akuntabilitas keuangan sekolah tetap menjadi tanggung jawab mutlak yang wajib diusut tuntas oleh otoritas berwenang.
Oleh karena itu, meskipun hari itu dipenuhi sorak-sorai prestasi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa isu keuangan internal SMKN 1 Mopuya belum menemukan titik terang. Publik dan masyarakat pendidikan menantikan langkah konkret dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bolaang Mongondow serta instansi pengawasan terkait untuk segera melakukan verifikasi independen dan memberikan klarifikasi yang transparan. Euforia kegiatan siswa tidak seharusnya menjadi tameng bagi minimnya pertanggungjawaban anggaran.
Namun, di balik semua tuntutan tersebut, terselip harapan besar. Semoga kejelasan administratif ini segera terwujud, sehingga SMKN 1 Mopuya tidak hanya dikenal karena kreativitas siswanya yang mampu menyulap sampah menjadi emas, tetapi juga karena integritas manajemen yang bersih dan transparan. Dengan demikian, sekolah ini dapat benar-benar menjadi kebanggaan daerah, tempat di mana prestasi akademik, kreativitas seni, dan akuntabilitas publik berjalan beriringan tanpa cacat.





