Kabupaten TELUK BINTUNI,Detikgo.com – Anak-anak SD di pegunungan Bintuni yang dulu belajar dari buku dan papan tulis kapur, sekarang berebut maju ke depan kelas. Di depan mereka bukan papan hitam, tapi Interactive Flat Panel 86 inci. Satu sentuhan, peta Indonesia berubah jadi 3D. Satu geser, rumus matematika muncul animasinya.
Itu pemandangan yang dilihat langsung Mendikdasmen Abdul Mu’ti saat kunjungan kerja ke Teluk Bintuni, (Jumat 29/5). Kedatangannya bukan cuma meresmikan kelas. Ia membawa kabar yang bikin kepala sekolah senyum lebar: tahun 2026, tiap sekolah dapat 3 IFP tambahan.
“Memangkas jarak dengan kabel dan daya” Selama ini kesenjangan paling nyata di Papua bukan soal gedung. Gedung bisa dibangun. Tapi akses guru berkualitas dan konten belajar modern sering mentok di jalan dan sinyal, Jawabannya tahun ini: 167 satuan pendidikan di Bintuni kebagian paket digitalisasi. Rinciannya 85 SD, 36 SMP, 27 PAUD, 18 SMA, 1 SMK. Isinya IFP, laptop, dan media penyimpanan konten. Targetnya jelas – kelas di Bintuni rasanya setara kelas di Jakarta.
“Teknologi sekarang jadi kunci memangkas kesenjangan kualitas pembelajaran,” kata Abdul Mu’ti di sela kunjungan.
Biar layar sentuhnya nggak jadi pajangan, Kemendikdasmen gandeng PLN untuk tambah daya listrik sekolah gratis. Sekaligus BPMP Papua Barat turun langsung: 20 sekolah dapat mentoring intensif. Guru dan kepsek dilatih, bukan cuma dikasih barang. Ada juga mentor daerah yang mampir rutin ke kelas.
Bupati Yohanis Manibuy yang mendampingi menyebut dampaknya sudah terasa. Kelas jadi lebih interaktif. Anak-anak yang biasanya pasif, sekarang paling depan kalau disuruh presentasi pakai IFP.
Program ini nyambung ke Inpres No 7/2025 soal Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran. 2025 jadi tahap awal: 1 IFP per sekolah. 2026 naik level: total 4 IFP per sekolah.
Intinya, Kemendikdasmen nggak cuma “kirim layar”. Mereka bangun ekosistemnya: perangkat + listrik + guru yang siap pakai. Kalau jalan terus, anak di Distrik Weriagar atau Merdey punya peluang yang sama dengan anak di Surabaya. Layar sentuh jadi jembatan, bukan tembok,tutup bupati Yohanis Manibuy.(Dip)





