Penulis: Yollanda L. Lagarens, SS., MHum (Dosen Pengajar di Politeknik Negeri Manado)
Minahasa Utara, detikgo.com – Di balik pesona alam pesisir Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, tersimpan sebuah kisah transformasi yang menakjubkan. Desa Wisata Sarawet, yang selama ini dikenal dengan keindahan hutan mangrove dan pantainya yang asri, kini memiliki wajah baru yang tak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengedukasi pikiran dan menguntungkan ekonomi warga.
Tak jauh dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Likupang, desa ini berhasil mengubah tantangan lingkungan yakni menumpuknya limbah plastik menjadi daya tarik wisata yang unik.
Melalui penelitian inovatif bertajuk “Dampak Inovasi Pengembangan Paket Wisata Berbasis Ecobrick di Desa Wisata Sarawet”, tim peneliti dari Politeknik Negeri Manado membuktikan bahwa desa wisata bisa mandiri dalam mengelola sampahnya sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.
Lebih dari Sekadar Pemandangan Alam
Desa Sarawet memang memiliki potensi alam yang luar biasa sebagai bagian dari ekosistem Likupang Timur. Namun, seperti destinasi populer lainnya, arus kunjungan wisatawan membawa konsekuensi berupa peningkatan volume sampah, terutama plastik sekali pakai. Jika dibiarkan, tumpukan plastik ini tentu akan merusak keindahan alam yang menjadi tulang punggung pariwisata desa.

Kampanye “Selamatkan Mangrove, Jaga Negeri Merdeka dari Sampah Plastik” yang digaungkan di lokasi menjadi pengingat keras akan urgensi perlindungan ekosistem pesisir Desa Sarawet dari ancaman limbah. Di sinilah letak pentingnya pendekatan berbasis riset. Penelitian oleh Politeknik Negeri Manado ini hadir bukan sekadar untuk membersihkan sampah, tetapi untuk mengubah masalah tersebut menjadi nilai tambah melalui teknologi tepat guna.
Paket Wisata Edukatif: Melihat Proses Daur Ulang
Yang membuat inovasi ini istimewa adalah cara penyajiannya kepada wisatawan. Ini bukan sekadar kerajinan tangan ecobrick manual, melainkan sebuah pabrik daur ulang mini bertenaga surya yang dikemas dalam paket wisata edukatif.
Dalam paket wisata ini, pengunjung diajak menyaksikan langsung bagaimana sampah plastik disulap menjadi produk bernilai tinggi melalui mesin Solar Eco Paver Machine (SEPM). Ada pameran interaktif yang menampilkan tahapan pengolahan, mulai dari pencacahan plastik hingga 50 kg per jam, pelelehan, hingga pengepresan dengan tekanan 20 ton.

Beragam varian paving block hasil olahan mesin SEPM dengan warna-warni khas plastik daur ulang membuktikan bahwa limbah bisa diubah menjadi material konstruksi yang kokoh, estetis, dan bernilai jual. Uniknya, seluruh proses ini ditenagai oleh panel surya berkapasitas 1.500 Wp.
Bagi wisatawan, ini adalah pengalaman langka: belajar sains, melihat teknologi hijau, dan berkontribusi langsung pada pelestarian lingkungan dalam satu waktu. Ecobrick menjadi jembatan edukasi yang menghubungkan wisatawan dengan isu keberlanjutan di Desa Sarawet.
Dampak Nyata: Lingkungan Bersih, Warga Sejahtera
Inovasi wisata di Desa Sarawet tidak hanya menjanjikan, tetapi juga terukur secara nyata. Hasil evaluasi menunjukkan, capaian yang diraih menyentuh tiga aspek utama secara signifikan:
- Dampak Lingkungan: Program ini mampu mengurangi timbulan sampah plastik rata-rata hingga 500–1.000 kg per bulan di setiap lokasi. Selain itu, penggunaan energi surya menekan konsumsi listrik konvensional hingga 50-70%, sekaligus menghentikan praktik pembakaran sampah terbuka yang berbahaya.
- Dampak Sosial: Inovasi ini mendorong pemberdayaan masyarakat lokal. Warga desa dilibatkan secara aktif sebagai operator mesin, pengelola sampah, dan pelaku usaha. Kesadaran akan pemilahan sampah meningkat tajam karena mereka melihat sendiri nilai ekonomis dari barang bekas tersebut.
- Dampak Ekonomi: Ini adalah bagian paling menarik. Sampah plastik berhasil diubah menjadi produk bernilai jual seperti eco paving dan sheet plastik. Analisis bisnis menunjukkan potensi laba bersih hingga Rp 41.000.000 per bulan dengan titik impas (BEP) yang sangat cepat, yaitu hanya 3,1 bulan. Produk paving block yang dihasilkan pun telah memenuhi standar SNI.
Kolaborasi Kuat dan Sistem Terintegrasi
Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi solid antara peneliti, pemerintah desa, dan masyarakat. Diskusi strategis rutin dilakukan untuk memastikan inovasi benar-benar diterapkan dan diterima oleh warga setempat. Infrastruktur pendukung seperti Bank Sampah Induk BSI Likupang juga dibangun untuk menjamin pasokan bahan baku tetap tersedia sebelum diolah menjadi paving block.

Inovasi pengembangan paket wisata berbasis ecobrick di Desa Sarawet membuktikan bahwa riset yang tepat guna mampu menjawab persoalan nyata di lapangan. Lebih dari itu, penelitian ini selaras dengan visi Indonesia Emas 2045 yang mengedepankan pembangunan berkelanjutan dan kemandirian ekonomi.
Desa Wisata Sarawet kini bukan hanya destinasi untuk menikmati alam, tetapi juga laboratorium hidup bagi wisata berkelanjutan. Sebuah contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan, partisipasi masyarakat, dan keindahan alam dapat bersinergi menciptakan dampak positif yang abadi.
#WisataEdukatif #Ecobrick #LikupangTimur #DesaWisataSarawet #IndonesiaEmas2045 #TeknologiHijau #SulawesiUtara #Polimdo




