Sorong_PBD Detikgo.com, Puluhan Massa dari bapak bapak dan ibu ibu serta anak anak datang menggunakan truk dan mobil menuju Pos Gakkum Sorong yang terletak di jalan belakangan Puskesmas kilo 12,Senin(27/05/24) Massa menuntut Gakkum Sorong yang diduga bekerjasama dengan Gakkum pusat untuk menahan kayu milik FF.
Dalam penyampaiannya menjawab pendemo, Mosa mengatakan bahwa mereka (Gakkum Sorong) “menutup mata” saat FF mengirim kayu sebanyak 4 kontainer, walaupun sudah mengetahui masih ada kekurangan dokumen milik FF.
Bahasa “menutup mata” ini menimbulkan banyak tafsir bagi yang mendengarkannya, bisa jadi Gakkum Sorong mau menutup mata karena menerima setoran, tetapi bisa juga sengaja menutup mata lalu koordinasi dengan Gakkum Pusat untuk menangkap di Surabaya, karena beredar informasi bahwa Gakkum pusat mendapat laporan dari Gakkum Sorong.
Frans Baho sebagai penasehat Persatuan Pewarta Warga Indonesia menyayangkan bahasa oknum Gakkum yang dinilainya sebagai alasan, karena posisi mereka adalah sebagai Gakkum yang artinya penegakan hukum.
“Bagaimana pak Mosa bisa bilang mereka tutup mata padahal tugas mereka sebagai penegak hukum? Pasti ada sesuatu yang membuat mereka menjadi tutup mata”,ujar pria asli Maybrat tersebut.
Sementara FF saat ditemui awak media membantah apa yang disampaikan Mosa kepada massa yang demo, dimana Mosa mengatakan hanya satu lembar saja dokumen yang dibawa oleh nya. “Saya saat diperiksa di Jakarta sudah menunjukkan 10 dokumen tentang asal usul kayu kami dan juga pembayaran pajak ke negara, jadi jangan menipu bila menjadi petugas, anda itu dibayar oleh rakyat” ujar FF dengan tegas.
Menariknya ada beberapa orang pendemo juga terlihat membawa poster gambar rumah mewah, dan saat ditanyakan itu adalah rumah tinggal milik oknum Gakkum Sorong inisial M dan S yang notabene jabatannya masih tidak terlalu tinggi.
Hal ini juga menjadi perhatian khusus oleh Robert Wanma. “Saya rasa tim KPK perlu terjun ke Sorong untuk memeriksa harta kekayaan kedua oknum tersebut” ujar Robert Wanma yang menjabat sebagai Humas Dewan Adat Papua wilayah III Doberai Propinsi Papua Barat Daya.
Ada dugaan bahwa rumah mewah tersebut hasil dari “main mata” para pengusaha kayu seperti yang terjadi saat ini kepada FF dan juga sebagian

hasil dari oknum tersebut yang ikut berbisnis kayu,tutup Robert.(Fb)





