Difasilitasi Kemenparekraf, APWISINDO Dukung SMF Beri Akses Pembiayaan Bagi Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Gorontalo


GORONTALO – detikgo.com Difasilitasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF bersama Asosiasi Pondok Wisata Indonesia (APWISINDO) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Akses Pembiayaan bagi sejumlah pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Provinsi Gorontalo.

Kegiatan yang melibatkan lebih dari 50 pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dari Desa Bongo, Desa Botu Barani dan Desa Linuo tersebut dilaksanakan di Kantor Desa Bongo Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo, Rabu (16/11/2022).

Bacaan Lainnya

Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rita Dwi Kartika Utami dalam sambutannya saat membuka secara resmi kegiatan fasilitasi akses pembiayaan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Provinsi Gorontalo mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bukti komitmen Kemenparekraf/Baparekraf melalui Direktorat Akses Pembiayaan, Deputi Bidang Industri dan Investasi untuk memajukan homestay di desa wisata dan mengembangkan akses pembiayaan pada pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di seluruh Indonesia, melalui kolaborasi dengan PT. Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Tercatat, hingga saat ini SMF telah merealisasikan program pembiayaan homestay di 16 desa wisata di berbagai wilayah Indonesia yang terdiri dari 152 homestay yang tersebar di Gunungkidul, Boyolali, Lombok, Kulon Progo, Banyuwangi, Likupang dan lainnya.

“Di wilayah Sulawesi, SMF telah melakukan perjanjian kerjasama dengan 2 desa wisata di Likupang dengan bantuan koordinasi dari Asosiasi Pondok Wisata Indonesia (APWISINDO) dengan total penyaluran sebesar 1,4 Milyar. Nah, salah satu target penyaluran tahun 2023 adalah Provinsi Gorontalo” terangya.

 

Menurut Rita, memperkuat karakteristik dan budaya menjadi faktor penting yang harus diperhatikan para pelaku homestay (Pondok Wisata). Karena pengalaman hidup bersama dan mengikuti kehidupan sehari-hari warga sekitar destinasi wisata tentu tidak bisa didapatkan dengan menginap di hotel/guesthouse.

“Pengalaman berwisata yang otentik, yang berkontribusi terhadap perekonomian lokal, mengedepankan kesadaran lingkungan, dan turut berpartisipasi dalam mengurangi emisi jejak karbon, hanya dapat diwujudkan dengan menginap di homestay” ucapnya.

Dikatakannya bahwa selain karena sudah adanya aktifitas kepariwisataan, alasan dipilihnya Desa Bongo, Desa Botu Barani dan Desa Linuo sebagai target penerima manfaat pembiayaan homestay dari SMF adalah atas rekomendasi dari APWISINDO dengan pertimbangan bahwa ketiga desa tersebut memiliki daya tarik wisata yang sangat potensial sehingga dinilai layak untuk menerima fasilitas pembiayaan dari SMF.

Ia berharap agar para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Gorontalo dapat memanfaatkan fasilitasi bimbingan teknis dan kemudahan akses pembiayaan yang dihadirkan Kemenparekraf/Baparekraf bersama PT. SMF ini secara baik untuk mengembangkan usahanya melalui Bumdes sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan perekonomian lokal di sekitar destinasi wisata.

“Besar harapan kami bahwa homestay di Indonesia akan menjadi pilihan utama bagi para wisatawan dalam menikmati destinasi wisata, bukan hanya sebagai alternatif dalam mencari akomodasi” pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo Rifli Katili menyambut baik kunjungan dari Tim dari Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata Ekonomi Kreatif, SMF dan APWISINDO yang telah memilih Desa Bongo sebagai salah satu desa wisata yang ditargetkan sebagai penerima manfaat program pembiayaan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Provinsi Gorontalo.

Ia berharap, agar program pembiayaan bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif ini tidak hanya dilaksanakan di Desa Bongo, Desa Botu Barani dan Desa Linuo tetapi juga dapat dilaksanakan di desa-desa dengan potensi wisata di seluruh kabupaten yang ada di Provinsi Gorontalo.

Ketua Tim Pembiayaan Homestay SMF Slamet Prabowo dalam pemaparan materinya tentang Fasilitasi Pembiayaan Homestay menjelaskan bahwa SMF merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pembiayaan sekunder perumahan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2005 dan berkantor pusat di Jakarta.

Dalam rangka mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi, tahun 2020 SMF kemudian menggandeng Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan menjalankan program pembiayaan homestay.

Program pembiayaan homestay berupa pinjaman kredit lunak kepada pemilik pondok wisata di destinasi wisata super prioritas dan desa-desa wisata di Indonesia ini merupakan implementasi atas komitmen SMF selaku mitra Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam mendukung Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui Direktorat Akses Pembiayaan Deputi Bidang Industri dan Investasi.

Melalui program pembiayaan homestay ini, pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dapat memperoleh pinjaman tanpa agunan dengan plafon maksimal Rp 150 juta, serta suku bunga yang relatif rendah yakni 3% per tahun untuk tenor maksimal 10 tahun yang disesuaikan dengan kemampuan penerima kredit. Menariknya, bunga pinjaman sebesar 3% ini akan diberikan ke BUMDes untuk pengembangan pariwisata di desa.

Tidak ada standar khusus yang ditetapkan oleh Tim SMF terkait desain pondok wisata yang akan dibangun/direnovasi. Desain pondok wisata disesuaikan dengan kultur atau budaya dan potensi alam setempat.

Adapun pelaksanaan pekerjaan pembangunan/renovasi homestay diserahkan seluruhnya kepada BUMDes. Sedangkan untuk penyusunan dokumen, RAB (Rencana Anggaran Biaya), dan pengawasan pembangunan/renovasi pondok wisata, SMF dibantu oleh seorang Konsultan/Konsultan Pengawas.

Saat ini perusahaan sedang melakukan sosialisasi dan survei desa wisata untuk persiapan penyaluran di tahun 2023. Dalam upayanya melaksanakan akselerasi dan pendekatan kepada pemerintah di masing-masing daerah yang menjadi target penerima manfaat, SMF bekerjasama dengan Asosiasi Pondok Wisata Indonesia (APWISINDO).

Menurut Prabowo, Provinsi Gorontalo merupakan daerah kedua yang direkomendasikan oleh APWISINDO sebagai target penerima manfaat program pembiayaan homestay dari SMF setelah Likupang.

“APWISINDO banyak membantu kami dengan merekomendasikan desa wisata yang layak untuk dijadikan sebagai target penerima manfaat program pembiayaan homestay sekaligus menjembatani SMF dengan pemerintah dan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di desa wisata yang direkomendasikan mulai dari sosialisasi program, pendampingan penyiapan dokumen, pengajuan pembiayaan homestay, penandatanganan Perjanjian Kerjasama hingga realisasi pembiayaan” jelasnya.

Ditemui usai membawakan materi dalam kegiatan tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pondok Wisata Indonesia (APWISINDO) Reinhard Samadi menyampaikan rasa syukurnya atas kesuksesan kegiatan sosialisasi final program pembiayaan homestay/Pondok wisata bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Provinsi Gorontalo.

Melalui kegiatan ini, Reinhard berharap akan banyak pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di Gorontalo yang akan memanfaatkan program pembiayaan SMF untuk mengembangkan usaha pariwisatanya.

Terpantau, minat peserta mengikuti kegiatan ini sangat terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta terkait persyaratan dan mekanisme pengajuan pembiayaan homestay.

Dalam kegiatan itu juga dilaksanakan Penyerahan Bantuan berupa 10 unit Kipas Angin dari PT. Puri Sentul Permai Tbk kepada 10 perwakilan pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif dari Desa Bongo, Desa Botu Barani dan Desa Linuo.

Direktur PT. Puri Sentul Permai Tbk Aan Rohanah mengatakan, penyerahan kipas angin tersebut merupakan bentuk dukungan dari stakeholder untuk meningkatkan hospitality homestay. Ia berharap, penyerahan bantuan amenities berupa kipas angin tersebut, dapat meningkatkan hospitality dari homestay yang ada di desa wisata.

Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala Desa Bongo Bachtiar Yunus, Kepala Desa Botu Barani Irwan Lakoro, Ketua DPD APWISINDO Provinsi Gorontalo Rinaldi Bahsuan dan Ketua DPD APWISINDO Provinsi Sulawesi Utara Martha Rondonuwu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *