JAKARTA (detikgo.com)— Sejak dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 8 September 2025 sebagai Menteri Keuangan (Menkeu) Republik Indonesia, nama Purbaya Yudhi Sadewa mulai menarik perhatian publik. Sosok yang sebelumnya lebih dikenal di kalangan ekonom itu kini berada di garis depan pengelolaan fiskal nasional, menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Senin, 2 November 2025.
Menurut Pemerhati yang juga Poltisi Nasional Djafar Badjeber MSi, Dalam waktu singkat, Purbaya mampu mencuri perhatian publik lewat sejumlah pernyataan dan langkah awalnya yang dinilai berani. Ia menyoroti berbagai persoalan mendasar dalam pengelolaan keuangan negara, termasuk dana pemerintah pusat dan daerah yang masih mengendap di perbankan.
“Sebagian besar dana tersebut belum dioptimalkan untuk kegiatan produktif. Padahal, jika digunakan dengan tepat, dapat menggerakkan perekonomian nasional,” ujar Purbaya dalam salah satu pernyataannya belum lama ini.
Dana “Tidur” dan Upaya Efisiensi
Data Kementerian Keuangan menunjukkan adanya ratusan rekening giro milik pemerintah di berbagai bank dengan total saldo mencapai ratusan triliun rupiah. Purbaya menilai kondisi itu menunjukkan adanya potensi besar yang belum dimanfaatkan.
Ia pun bertekad agar dana tersebut segera digerakkan untuk mempercepat belanja pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperbaiki tata kelola fiskal agar lebih efisien dan transparan.
Kebijakan itu mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan, terutama karena langkah Purbaya dinilai berbeda dengan pendekatan sejumlah pejabat sebelumnya yang cenderung berhati-hati dan konservatif dalam mengelola kas negara.
Optimisme Pertumbuhan
Menkeu baru ini juga menyampaikan keyakinannya bahwa target pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen, seperti yang diharapkan Presiden Prabowo, bukan hal yang mustahil. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi ekonomi besar yang selama ini belum sepenuhnya tergarap.
“Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah. Tantangannya ada pada pengelolaan dan integritas para pelaksana kebijakan,” katanya dalam kesempatan berbeda.
Selain fokus pada dana mengendap, Purbaya juga menyoroti sejumlah persoalan di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta potensi kebocoran di sektor pajak dan bea cukai. Kementerian Keuangan di bawah kepemimpinannya disebut akan lebih menekankan transparansi dan akuntabilitas publik.
Langkah Awal dan Harapan Publik
Walau baru sebulan menjabat, Purbaya Yudhi Sadewa mulai dianggap membawa semangat baru di bidang fiskal. Beberapa kalangan menyebut gaya kerjanya lugas, teknokratik, dan berorientasi hasil.
Langkah-langkah awal ini menimbulkan optimisme baru di tengah kelelahan publik terhadap berbagai kasus penyalahgunaan anggaran di masa lalu.
Ke depan, tantangan besar bagi Menkeu Purbaya adalah memastikan bahwa komitmen pada efisiensi dan transparansi benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang berkelanjutan. (Djafar Badjeber/**)





