BOLAANG MONGONDOW – detikgo.com Ribuan petani di wilayah Kosinggolan terancam merugi. Pasalnya, progres pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi D.I (Daerah Irigasi) Kosinggolan yang berjalan lambat membuat proyek ini dikhawatirkan tidak bisa selesai tepat waktu dan berdampak pada tertundanya musim tanam.
Sebagaimana pantauan di lokasi, kondisi terkini pekerjaan rehabilitasi yang ditargetkan selesai pada bulan Desember 2022 ini belum mencapai 50℅ dari total volume pekerjaan yang harus dirampungkan.
Terdapat sejumlah titik yang nampak sudah dibongkar namun belum dikerjakan, sementara di beberapa titik yang lain sudah dikerjakan namun belum selesai. Tumpukan sedimen dan sisa bongkaran konstruksi jaringan irigasi lama yang masih menumpuk belum diangkat/dibersihkan. Di sejumlah titik jaringan irigasi lama yang sudah rusak bahkan belum nampak ada kegiatan pembongkaran untuk pekerjaan rehabilitasi.
Melihat kondisi tersebut, dengan sisa waktu yang hanya tinggal beberapa minggu lagi, dikhawatirkan pekerjaan rehabilitasi saluran terancam gagal karena tidak bisa selesai dengan baik dan tepat waktu terlebih pada musim penghujan seperti sekarang ini.
Diketahui, Bendung DI (Daerah Irigasi) Kosinggolan yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian seluas 3.865 Ha ini sudah dikeringkan sejak bulan Juni 2022. Jadi petani di wilayah ini sudah melewatkan 2 kali musim tanam sejak saluran Bendung DI (Daerah Irigasi) Kosinggolan dikeringkan.
“Jika Desember ini proyek saluran masih belum selesai juga, maka kami pasti tidak akan bisa menggarap sawah. Padahal, kehilangan 2 kali musim tanam saja, sudah cukup membuat ekonomi keluarga morat-marit apalagi jika sampai melewatkan 3 kali musim tanam. Sementara hutang makin menumpuk” keluh seorang petani yang diaminkan oleh sejumlah petani lainnya.

Menurut sejumlah petani, jika pun di musim penghujan seperti ini pekerjaan rehabilitasi saluran terpaksa dikebut agar dapat selesai tepat waktu, mereka khawatir konstruksi dinding dan lantai saluran tidak akan kokoh dan mudah tergerus air dan berakibat konstruksi saluran cepat mengalami kerusakan.
Mereka juga mengeluhkan soal tidak adanya kompensasi dari pemerintah dalam hal ini Balai Wilayah Sungai Sulawesi I (BWSS I) dan Kontraktor terkait terhentinya aktifitas para petani selama bulan Juni hingga Desember 2022 karena adanya pekerjaan rehabilitasi saluran.
“Namanya orang desa, kami hanya mengandalkan hasil dari bertani. Sampai saat ini air belum masuk ke wilayah pertanian di sini. Saluran irigasinya sedang direhab. Saya minta pemerintah segera bertindak untuk membantu warga. Kasihan soalnya mayoritas di sini petani” keluh Ketua Gabungan Petani Golongan I Daerah Irigasi (D.I) Kosinggolan Thalib Gumer, Sabtu (19/11/2022).
Ditambahkannya bahwa selain berfungsi sebagai pengendali banjir, jaringan irigasi Kosinggolan ini juga berfungsi sebagai infrastruktur air irigasi. “Semoga pekerjaan rehabilitasi saluran yang menyuplai kebutuhan air pertanian di lahan pertanian kami segera selesai agar sawah yang menjadi sumber mata pencaharian utama kami tidak terganggu” ujarnya berharap.

Tidak diketahui pasti, siapa kontraktor pelaksana dan berapa nilai proyek pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi Bendung DI (Daerah Irigasi) Kosinggolan ini, karena berdasarkan pantauan tidak ada papan proyek yang terpasang di lokasi pekerjaan.
Namun demikian, berdasarkan informasi yang diperoleh dari LPSE Kementerian PUPR 2022 diketahui bahwa proyek Rehabilitasi D.I Kosinggolan Tahap II Paket 2 IPDMIP Kementerian PUPR berbandrol Rp 13.951.698.000. Proyek ini dikerjakan oleh oleh PT. Karya Murni Anugerah yang beralamat di Kelurahan Soatoloara II Kecamatan Tahuna Kabupaten Sangihe Sulawesi Utara dengan NPWP 02.441.923.6-825.000.
Dari sumber yang sama diketahui bahwa sebelum proyek Rehabilitasi D.I Kosinggolan Tahap II Paket 2 IPDMIP Kementerian PUPR berbandrol Rp 13.951.698.000 ternyata ada juga proyek Rehabilitasi D.I Kosinggolan Tahap II Paket 1 IPDMIP Kementerian PUPR yang berbandrol Rp 9.658.436.000. Proyek dilaksanakan oleh CV. Gaby Gioh yang beralamat di Kelurahan Luaan Kecamatan Tondano Timur Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara dengan NPWP 02.284.015.1-823.000.
Terkait hal ini, Ketua IP3A (Induk Perkumpulanan Petani Pemakai Air) Suardi K. Baderan yang dihubungi pada Senin (21/11/2022) mengatakan bahwa ia senantiasa mengingatkan pihak terkait dalam hal ini PPK BWSS I dan Kontraktor Pelaksana agar memperhatikan soal waktu pelaksanaan proyek rehabilitasi jaringan irigasi Kosinggolan.
“Sebagai Ketua organisasi petani IP3A saya selalu mengingatkan pihak penyedia jasa dalam hal ini kontraktor agar memperhatikan waktu pelaksanaan proyek, mengingat para petani sudah mengorbankan 2 kali musim tanam demi rampungnya proyek rehab saluran ini” terangnya.

Ditambahkannya bahwa pada bulan Oktober 2022 ia bahkan sudah memberikan warning kepada pihak kontraktor soal waktu pelaksanaan proyek yang tinggal tersisa 3 bulan lagi.
Meski progres pekerjaan di lokasi proyek sempat membuat dirinya dan para petani pesimis dan khawatir akan tidak selesainya pekerjaan ini sesuai jadwal yang ditentukan, namun pihak kontraktor dan BWSS I berhasil meyakinkan Ketua IP3A itu dengan memastikan bahwa pekerjaan tersebut akan selesai tepat waktu.
“Meski pesimis dengan kondisi di lapangan namun saat berkoordinasi dengan pihak kontraktor dan BWSS I, mereka memastikan bahwa pekerjaan tersebut akan selesai tepat waktu. Karenanya, saya bersama para petani akan menunggu hal tersebut karena sesuai kesepakatan terhitung tanggal 1 Januari 2023 air akan kami salurkan ke lahan-lahan pertanian” tegasnya.
Diketahui ada sekitar 5.000-an petani yang tergabung dalam 48 P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air) yang terdampak langsung dan terpaksa melewatkan 2 kali musim tanam karena adanya pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi Kosinggolan ini.
Menanggapi hal ini, PPK Balai Wilayah Sungai Sulawesi I (BWSS I) Ronald Parengkuan yang dihubungi http://detikgo.com Senin (21/11/2022) membenarkan soal lambatnya progres pekerjaan rehabilitasi jaringan irigasi Kosinggolan.

“Iya, benar bu. Kondisi di lapangan saat ini memang masih seperti itu, tetapi kontraknya kan sampai 31 Desember 2022. Terkait kemungkinan terjadinya keterlambatan pekerjaan yang tidak sesuai kontrak, kan ada konsekuensinya yakni putus kontrak, blacklist. Jadi semua sesuai aturan kontrak sih, bu. Tapi sekarang kami sedang mengupayakan agar pekerjaan ini bisa selesai pada 31 Desember (2022) nanti” terangnya.
Disinggung soal bisa tidaknya pekerjaan tersebut diselesaikan sesuai jadwal dengan memperhatikan sejumlah faktor seperti progres pekerjaan saat ini, sisa waktu yang tinggal beberapa minggu lagi, serta kondisi alam yang sudah memasuki musim penghujan Ronald memastikan bahwa pekerjaan tersebut bisa diselesaikan tepat waktu.
“Boleh, Bu. Yang penting fokus dan menambah jumlah pekerja, pasti bisa. Saat ini, semua sudah dimobilisasi. Termasuk alat. Jadi, kalau mau dikebut dan dipercepat pasti jadi. Selesai” ucapnya yakin.
Ia pun memastikan upaya mempercepat progres pekerjaan agar selesai tepat waktu ini akan dilakukan tanpa mengurangi kualitas pekerjaan.
“Kalau pengurangan kualitas pekerjaan, tidak akan dikurangi. Itu konsekuensinya berat, Bu. Mengurangi kualitas, mengurangi volume pekerjaan itu tidak mungkin lah. Lagi pula, soal kualitas pekerjaan ini kan ada konsultan supervisi, ada direksi pengawas di kantor. Setelah proyek selesai pun, masih ada pemeriksaan dari Inspektorat dan BPK. Jadi, saat ini tidak mungkin ada yang seperti itu. Jika pun ada kontraktor yang nakal seperti itu, ketika ada pemeriksaan dari Inspektorat dan BPK pasti akan jadi temuan dan harus TGR dikembalikan ke kas negara” jelasnya.
Disinggung soal tidak adanya papan proyek di lokasi pekerjaan, Ronald mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada dokumentasi papan proyek di lokasi pekerjaan. “Untuk Paket I papan proyeknya dipasang di titik nol Bendung Kosinggolan, sedangkan untuk Paket II papan proyeknya dipasang di sekunder Kosinggolan. Mungkin ketika Ibu turun ke lokasi, ada masyarakat yang iseng mengambil papan proyek tersebut hingga tidak ada lagi papan proyek di lokasi pekerjaan” pungkasnya.





