Lintas Agama dan Adat Sangihe Bersatu dalam Doa, Mohon Pemulihan Alam dari Karhutla Gunung Awu

SANGIHE, detikgo.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe bersama tokoh lintas agama, unsur adat, Forkopimda, relawan, serta masyarakat menggelar Doa Bersama Lintas Agama dan Adat Sangihe di Papanuhung Santiago Tampungang Lawo, Minggu (13/09/2026).

Kegiatan tersebut menjadi wujud kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam menyikapi kondisi kemarau panjang serta kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di kawasan Gunung Awu dan sejumlah wilayah sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Doa bersama dihadiri Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, S.E., M.M., Wakil Bupati Tendris Bulahari, Ketua TP-PKK Kabupaten Kepulauan Sangihe Ny. Cherry S. Thungari-Soeyoenus, S.E., Wakil Ketua TP-PKK Ny. Agnes Bulahari Walukow, S.E., unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, pimpinan perangkat daerah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dewan Adat Sangihe, tokoh agama, relawan, donatur, serta masyarakat.

Kebakaran di kawasan Gunung Awu dilaporkan mulai muncul sejak 5 September 2026 dari sekitar Pos 8 jalur pendakian Angges, Kecamatan Tahuna Barat. Dalam perkembangannya, sebaran titik api meluas hingga wilayah Kelurahan Kolongan, Kecamatan Kendahe, serta sejumlah kawasan di Kecamatan Tabukan Utara.

Berdasarkan analisis data geospasial Short-Wave Infrared (SWIR) dari citra Sentinel-2 tanggal 9 September 2026, luas kawasan yang diperkirakan terdampak kebakaran mencapai sekitar 587,76 hektare.

Proses penanganan tidak mudah karena titik-titik kebakaran berada di kawasan pegunungan dengan medan terjal pada ketinggian sekitar 600 hingga 1.030 meter di atas permukaan laut.

Bupati Michael Thungari dalam sambutannya menegaskan bahwa kondisi medan menjadi tantangan besar bagi petugas dan relawan yang melakukan pemantauan maupun penanganan di lapangan.

Karena itu, pemerintah daerah terus membangun koordinasi bersama Forkopimda, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, kelurahan dan kampung, masyarakat serta para relawan untuk memantau perkembangan titik api sekaligus mengantisipasi meluasnya kebakaran.

Pemantauan dilakukan melalui pos-pos yang telah disiapkan di sejumlah wilayah terdampak, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel yang terlibat.

Suasana doa bersama berlangsung khidmat. Kegiatan diawali dengan ritual adat Tatahimokoing Sembanua yang dilaksanakan Dewan Adat Sangihe sebagai bagian dari tradisi dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Selanjutnya, doa dipanjatkan secara bergantian oleh perwakilan umat Islam, Kristen Protestan, berbagai denominasi gereja, serta Katolik.

Pokok doa yang disampaikan berisi permohonan agar kondisi alam Sangihe segera dipulihkan, hujan dapat kembali turun, kebakaran hutan dan lahan segera berakhir, serta seluruh petugas, relawan dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan diberikan perlindungan dan kekuatan.

Doa lintas agama dan adat tersebut sekaligus menjadi simbol kuatnya persatuan masyarakat Sangihe dalam menghadapi bencana. Perbedaan keyakinan maupun latar belakang tidak menjadi penghalang untuk bersama-sama menjaga keselamatan masyarakat serta kelestarian alam Tanah Tampungang Lawo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *