SANGIHE, detikgo.com – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe terus memperkuat transformasi pelayanan kesehatan melalui peluncuran Santer-TB (Sistem Akselerasi Nusantara Tangguh Eliminasi Tuberkulosis), sebuah inovasi berbasis digital yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas penemuan kasus, pemantauan pengobatan, hingga pelaporan tuberkulosis (TB) secara terpadu.
Peluncuran aplikasi tersebut berlangsung di Tahuna Beach Hotel, Senin (06/07/2026), dilakukan secara resmi oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, S.E., M.M., dan turut dihadiri Sekretaris Daerah, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah, jajaran tenaga kesehatan, serta para mitra yang selama ini berperan dalam upaya pengendalian TB di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
Dalam pemaparannya, Dinas Kesehatan Daerah menjelaskan bahwa tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular yang memerlukan perhatian serius. Secara nasional, Indonesia masih berada di jajaran negara dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia, sehingga diperlukan berbagai terobosan untuk mempercepat deteksi dini, pengobatan, dan pencegahan penularan.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 2.410 masyarakat yang menjalani pemeriksaan sebagai terduga TB, dengan 547 kasus berhasil ditemukan. Capaian tersebut mendekati target estimasi insiden sebanyak 566 kasus. Sementara itu, tingkat keberhasilan pengobatan mencapai 87,9 persen, yang masih perlu ditingkatkan agar memenuhi target nasional sebesar 90 persen.
Melalui aplikasi Santer-TB, seluruh proses pencatatan pasien, pemantauan kepatuhan minum obat, pelacakan kontak erat, hingga penyusunan laporan dapat dilakukan secara digital sehingga mempermudah koordinasi antarpetugas kesehatan sekaligus mempercepat pengambilan keputusan.
Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menegaskan bahwa keberhasilan eliminasi tuberkulosis tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga pada kualitas data yang dimiliki pemerintah.
“TB merupakan penyakit yang masih menjadi tantangan besar bagi dunia kesehatan. Karena itu kita membutuhkan sistem yang mampu menyajikan data secara cepat, akurat, dan berkelanjutan. Kehadiran Santer-TB diharapkan menjadi instrumen penting dalam memperkuat pelayanan kepada masyarakat sekaligus mempercepat upaya eliminasi TB di Kabupaten Kepulauan Sangihe,” ujar Bupati.
Menurutnya, salah satu persoalan yang sering dihadapi dalam penanganan TB adalah masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum waktunya karena merasa telah sembuh. Padahal, pengobatan TB harus diselesaikan sesuai standar agar bakteri tidak menjadi kebal terhadap obat.
“Melalui aplikasi ini, tenaga kesehatan dapat memantau perkembangan pasien secara lebih efektif. Dengan demikian, pasien dapat terus didampingi hingga menyelesaikan seluruh tahapan pengobatan dan dinyatakan sembuh,” tambahnya.
Bupati juga mengingatkan seluruh petugas kesehatan, kader, maupun operator aplikasi agar selalu melakukan pembaruan data secara konsisten. Ia menilai kualitas sebuah sistem informasi sangat ditentukan oleh ketepatan dan kelengkapan data yang dimasukkan oleh para pengguna.
“Saya berharap seluruh pengguna aplikasi memiliki komitmen yang sama untuk menginput data secara disiplin. Data yang valid akan menjadi dasar dalam menyusun kebijakan, mengevaluasi program, sekaligus memastikan setiap pasien memperoleh pelayanan yang optimal,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Michael Thungari menyampaikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang selama ini menjadi ujung tombak dalam pelayanan dan penanggulangan tuberkulosis di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Ia optimistis kehadiran Santer-TB akan menjadi langkah strategis dalam mendukung target eliminasi TB tahun 2030 serta mewujudkan pelayanan kesehatan yang semakin modern, efektif, dan berpihak kepada masyarakat.





