MANADO, detikgo.com – Jaringan Irigasi Daerah (DI) Kosinggolan di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) akan segera mendapatkan penanganan komprehensif untuk mengatasi masalah eceng gondok, sedimentasi, dan kerusakan pintu air yang menghambat distribusi air ke petak sawah petani. Pembersihan akan dimulai minggu ini dan menjadi bagian penting dari upaya mewujudkan target Sulut Bebas Eceng Gondok Tahun 2026 sekaligus mendukung pencapaian swasembada pangan nasional.
Hal ini terungkap dari keterangan Kasatker TP-OP Reinhard Wariki yang ditemui detikgo.com di ruang kerjanya di Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Provinsi Sulawesi Utara, Selasa (10/2/2026) menanggapi kondisi saluran irigasi D.I Kosinggolan yang saat ini hampir seluruh permukaan airnya tertutupi eceng gondok, dengan sedimen tebal di dasar dan beberapa pintu air yang tidak berfungsi. (Baca: Jaringan Irigasi D.I Kosinggolan Diselimuti Gulma, Target Sulut Swasembada Pangan Terancam)
Reinhard Wariki mengaku terkejut dengan kecepatan pertumbuhan gulma yang meluas. “Saya masih ingat betul, sekitar pertengahan Desember 2025 lalu saya melakukan monitoring ke lokasi, saluran masih dalam kondisi baik, tidak ada tanda-tanda eceng gondok akan meluas seperti yang terlihat saat ini. Seolah dalam sekejap mata, gulma itu tumbuh subur dan menutupi hampir seluruh permukaan air” ungkapnya.
Reinhard menyampaikan bahwa tim teknisi dan alat berat telah siap terjun ke lapangan. Kegiatan yang akan dilakukan meliputi tiga tahap utama:
- Pemberantasan eceng gondok: Melalui pengangkatan manual dan bantuan alat berat untuk membersihkan seluruh permukaan saluran dari gulma yang tumbuh subur.
- Pengangkatan sedimen: Galian endapan lumpur dan pasir di dasar saluran untuk memulihkan kapasitas aliran air.
- Perbaikan pintu air: Memperbaiki atau mengganti bagian-bagian yang rusak agar dapat mengatur distribusi air secara merata ke setiap petak persawahan.
“Kita fokus pada pemulihan fungsi utama irigasi agar air bisa sampai ke lahan petani dengan lancar. Setiap tahap pekerjaan direncanakan dengan matang untuk memastikan hasil yang optimal, karena ini sangat penting untuk mendukung swasembada pangan yang kita targetkan,” jelas Reinhard.
Untuk mencegah kembalinya eceng gondok, pihaknya telah menyusun langkah pengelolaan yang terpadu terhadap gulma yang telah dibersihkan. “Kita tidak hanya membersihkan, tapi juga memastikan eceng gondok yang diangkat tidak bisa tumbuh kembali di saluran atau area sekitarnya,” ujar Reinhard.
Eceng gondok yang berhasil dibersihkan akan dikumpulkan dan diangkut ke lokasi penampungan khusus. Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pengecekan secara berkala pada area sekitar saluran untuk mencegah penyebaran tunas eceng gondok dari lahan basah atau sungai yang berdekatan.
Pembersihan DI Kosinggolan menjadi salah satu langkah awal dalam rangka mencapai target ambisius Provinsi Sulawesi Utara untuk menjadi bebas eceng gondok pada tahun 2026. Target ini tidak hanya bertujuan untuk memastikan kelancaran irigasi, tetapi juga untuk mendukung swasembada pangan nasional, khususnya komoditas padi yang menjadikan Sulut sebagai salah satu provinsi penyangga ketahanan pangan.
Sebagai provinsi dengan potensi lahan pertanian yang luas, Sulawesi Utara ditargetkan dapat menghasilkan lebih dari 1 juta ton gabah per tahun pada 2026, yang akan menyumbang signifikan terhadap kebutuhan nasional. Selain Bolmong, wilayah penyangga produksi padi lainnya di Sulut meliputi Minahasa, Minahasa Utara, dan Minahasa Selatan. Produksi gabah dari Sulut tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga direncanakan akan diekspor ke provinsi lain di Indonesia Timur yang masih mengalami defisit pasokan pangan.
Reinhard juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan organisasi petani seperti IP3A, GP3A, dan P3A dalam menjaga kebersihan saluran secara berkelanjutan setelah pembersihan selesai. “Mereka yang paling dekat dengan lapangan, jadi peran mereka sangat krusial untuk mencegah kembalinya masalah eceng gondok dan memastikan sistem irigasi tetap berfungsi baik demi tercapainya swasembada pangan,” tambahnya.
Dengan langkah-langkah yang terencana dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan kondisi irigasi di Sulawesi Utara dapat kembali optimal, target Sulut Bebas Eceng Gondok tahun 2026 dapat tercapai, dan potensi lahan sawah yang luas dapat dimanfaatkan untuk mendukung swasembada pangan nasional.





