Jaringan Irigasi D.I Kosinggolan Diselimuti Gulma, Target Sulut Swasembada Pangan Terancam

BOLMONG, detikgo.com – Kondisi jaringan irigasi Daerah Irigasi (DI) Kosinggolan yang meliputi wilayah Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), saat ini dalam keadaan sangat memprihatinkan. Hal ini mengancam ketahanan pangan bagi banyak petani di wilayah tersebut dan menjadi batu sandungan bagi pencapaian target pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan pada tahun 2026.

Pantauan detikgo.com pada Minggu (1/2/2026) menunjukkan hampir seluruh permukaan saluran irigasi tertutupi oleh eceng gondok yang tumbuh subur, dengan sedimentasi tebal di bagian dasar. Penampang basah saluran tidak terlihat lagi karena diselimuti gulma dan rumput, sementara tidak ada tindakan pembersihan sama sekali. Hal ini telah menyebabkan banyak lahan sawah tidak dapat ditanami pada musim tanam yang sedang berlangsung.

DI Kosinggolan yang disebut-sebut memiliki kapasitas untuk menghasilkan lebih dari 5.000 ton gabah per musim tanam jika beroperasi normal ternyata belum bisa memberikan manfaat optimal. Padahal, DI Kosinggolan sebagai sumber air utama yang memiliki debit air melimpah merupakan aset negara yang dibangun dengan anggaran yang signifikan, bahkan untuk total biaya rehabilitasi yang dilaksanakan beberapa waktu lalu saja mencapai Rp 36.000.000.000.

Berdasarkan data detikgo.com, tercatat bahwa beberapa waktu lalu Balai Wilayah Sungai Sulawesi I SNVT telah menyelesaikan tiga paket pekerjaan rehabilitasi melalui program Infrastruktur Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Irigasi Perkotaan (IPDMIP) dengan rincian sebagai berikut:

  • Tahap I (2022): Rp 9.658.436.000 (CV. Gaby Gioh) – rehab saluran primer/sekonder, galian endapan, jalan inspeksi.
  • Tahap II (2022): Rp 13.951.698.000 (PT. Karya Murni Anugerah) – rehab saluran, bangunan pelengkap, bendung suplesi, pintu air.
  • Tahap III (2023): Rp 13.231.420.720 – fokus pada saluran sekunder di Golongan 2 dan pembangunan jembatan.

Masalah utama bukan pada ketersediaan air, melainkan kemampuan sistem irigasi untuk mengalirkannya ke petak persawahan akibat kondisi saluran yang terabaikan.

“Aset negara yang dibiayai anggaran negara hingga puluhan miliar rupiah kini tidak memberikan manfaat apapun bagi kami para petani. Rata-rata setiap petani kehilangan pendapatan hingga puluhan juta rupiah per musim tanam karena tidak bisa menanam,” ujar salah satu petani yang ditemui di lokasi saluran saat pemantauan dilakukan.

Selain kerugian pendapatan langsung, kondisi ini juga mengkhawatirkan karena dapat menyebabkan lahan sawah menjadi tidak subur akibat kurangnya pasokan air dan penumpukan gulma yang tidak terkontrol. Jika tidak segera ditangani, pemulihan sistem irigasi akan membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan dengan pemeliharaan rutin, bahkan berpotensi merusak struktur dasar saluran yang telah direhabilitasi.

Kondisi ini sungguh kontras dengan komitmen pemerintah untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2026, di mana Sulawesi Utara ditargetkan sebagai salah satu provinsi penyangga ketahanan pangan nasional khususnya untuk komoditas padi. Tanpa sistem irigasi yang berfungsi dengan baik, potensi lahan sawah yang luas di wilayah ini tidak dapat dimanfaatkan secara optimal, yang berujung pada penurunan produksi padi dan ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

Hingga saat ini, detikgo.com masih terus melakukan upaya konfirmasi kepada instansi terkait, antara lain Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Sulawesi Utara serta Balai Wilayah Sungai Sulawesi I SNVT untuk mendapatkan tanggapan resmi terkait kondisi ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *