BOLAANG MONGONDOW, detikgo.com – Setelah sempat melewati diskusi yang cukup alot antara petani dan Petugas OP (Operasi dan Pemeliharaan) Bendung Kosinggolan terkait pelayanan air yang belum juga dilaksanakan sesuai waktu yang disepakati bersama antara petani dan Kontraktor Pelaksana Pekerjaan Rehabilitasi D.I Kosinggolan Tahap II Paket 1 IPDMIP Kementerian PUPR CV.Gabygyo, akhirnya sebagian petani yang tergabung dalam GP3A (Gabungan Petani Pemakai Air) Golongan I bisa bernafas lega karena pelayanan air sudah mulai dilaksanakan oleh petugas Bendung Kosinggolan sekitar pukul 14.30 Wita, Kamis (12/1/2023).
Sebelumnya, sebagaimana pantauan http://detikgo.com, Kamis (12/1/2023) sekitar pukul 9.00 pagi sejumlah perwakilan petani nampak berbondong-bondong mendatangi lokasi Bendung Kosinggolan. Mereka menuntut agar pelayanan air segera dilaksanakan sesuai hasil kesepakatan yang telah mereka buat bersama pihak pelaksana pekerjaan pada Selasa (20/12/2022).
Diketahui bahwa pada Selasa (20/12/2022) telah diadakan pertemuan antara Ketua IP3A (Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air) Suwardi K. Baderan, Ketua GP3A (Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air) Golongan I Thalib Gumer, Ketua GP3A (Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air) Golongan II Alfons Aleng, sejumlah perwakilan petani dan Kontraktor Pelaksana Pekerjaan CV.Gabygyo membahas berbagai persoalan terkait Pekerjaan Rehabilitasi D.I Kosinggolan yang menghasilkan sejumlah kesepakatan penting antara kedua pihak (petani dan kontraktor) termasuk soal penundaan pelayanan air dari kesepakatan awal dimana seharusnya pelayanan air sudah dimulai pada tanggal 1 Januari 2023 ditunda selama 10 hari menjadi tanggal 11 Januari 2023.
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh pihak terkait yakni: PPK yang diwakili oleh Direksi Paket I Mansyur; Konsultan Supervisi dari KSO PT. Silcon Adilaras dan PT. Prajna Adhi Cakra yang diwakili Didi; Pemerintah Kecamatan Dumoga Barat yang diwakili oleh Sekretaris Kecamatan dan para Petugas Juru, PPA (Penjaga Pintu Air) dan Staf Pengamat Bendung Kosinggolan.
Adapun kedatangan sejumlah perwakilan petani yang tergabung dalam GP3A Golongan I di Bendung Kosinggolan pada Kamis (12/1/2023) tersebut adalah untuk mempertanyakan tindak lanjut dari hasil kesepakatan yang tidak kunjung terealisasi. Mereka mendesak Petugas Bendung Kosinggolan untuk segera melaksanakan pelayanan air kepada petani dengan membuka pintu air hari itu juga.
Seorang petani asal Desa Ikhwan bernama Abdul Muthalib Mertosono mengatakan bahwa terhentinya pelayanan air akibat adanya proyek pekerjaan rehabilitasi saluran induk dan sekunder Bendung Kosinggolan ini sudah cukup banyak menimbulkan kerugian bagi para petani yang otomatis tidak bisa menggarap sawah selama 2 kali musim tanam. “Kami tidak punya penghasilan karena kami belum bisa menggarap sawah. Memenuhi kebutuhan keluarga saja kami sudah kesulitan, apalagi harga beras naik drastis dari 10 ribu/kilogram menjadi 12,5 ribu/kilogram. Padahal kami pun masih punya kewajiban membayar bunga pinjaman untuk modal menggarap sawah yang kami gunakan pada musim tanam yang lalu kepada para pemodal. Ada pengolahan lahan maupun tidak, bunga pinjaman sebesar 3% jalan terus” keluhnya getir.
Lain lagi keluhan petani bernama Issambri Nasaru yang mengaku sangat kesal karena ternyata hari ini belum ada pelayanan air dari pihak terkait, padahal kemarin (11/1/2023) ia sudah terlanjur melakukan penyemprotan rumput di lahan. “Kemarin saya sudah melakukan penyemprotan rumput, tapi ternyata hari ini belum ada pelayanan air. Biaya terbuang percuma” kesalnya.
Ia pun menyesalkan tidak adanya perhatian dan kepedulian pemerintah daerah maupun pihak terkait terhadap persoalan ini hingga petani sendiri yang terpaksa turun tangan mengambil tindakan.
Dalam kesempatan itu, Sangadi (Kepala Desa) Doloduo Dua Wawan Bonde yang mengaku sengaja datang ke lokasi Bendung Kosinggolan karena sebelumnya sudah menerima informasi terkait akan adanya gerakan dari para petani yang mempersoalkan tentang belum adanya pelayanan air pada Rabu (11/1/2023) menilai bahwa ini merupakan tanggungjawab dari pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi Utara dan Kontraktor Pelaksana Pekerjaan. Ia pun mempertanyakan pengawasan dari pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi Utara selaku pemilik proyek.
“Jadi disini intinya adalah Balai Wilayah Sungai Sulawesi Utara dan Kontraktor Pelaksana Pekerjaan. Mereka harus duduk bersama untuk membahas soal kapan waktunya melaksanakan pelayanan air untuk petani. Sebelumnya juga kan mereka sudah membuat kesepakatan bersama petani soal penundaan pelayanan air, dimana disepakati pelayanan air akan dilaksanakan tanggal 11 Januari 2023. Ini sudah tanggal 12 Januari 2023, jadi sudah lewat dari waktu yang disepakati dan lagi tidak ada informasi kepada petani soal apakah waktu penundaan pelayanan air masih akan diperpanjang atau tidak. Jadi sudah haknya petani untuk melakukan demo atau pun mereka memaksa untuk membuka pintu air. Ini hak mereka, karena sudah sesuai dengan hasil kesepakatan” ujarnya sambil menambahkan bahwa ia sudah sempat menghubungi Pak Mansyur selaku Direksi Proyek terkait adanya gerakan dari petani di wilayahnya. “Saya sudah menghubungi Pak Mansyur selaku Direksi dan beliau saat ini sedang berusaha menghubungi Pak Wardi (Ketua IP3A)” terangnya.
Menanggapi hal ini, salah satu petugas OP Bendung Kosinggolan Adul Panigoro yang saat itu hadir bersama beberapa petugas Bendung Kosinggolan lainnya mengatakan bahwa pada Selasa (10/1/2023) pihaknya telah melaksanakan inspeksi lapangan melalui telusur jaringan untuk mengecek kesiapan jaringan induk terkait pelaksanaan pelayanan air kepada para petani. Dari hasil telusur jaringan tersebut diketahui bahwa ternyata secara teknis jaringan induk belum siap dan belum memenuhi syarat untuk untuk dialiri air karena masih tersumbat dengan tumpukan sedimen dan eceng gondok. Jika pun pelayanan air dipaksakan dilaksanakan pada Rabu (11/1/2023) ia khawatir konstruksi saluran induk yang saat ini sedang direhabilitasi akan jebol mengingat ada bagian-bagian konstruksi yang baru dikerjakan dan ada juga yang baru dibongkar dan belum dikerjakan. Tak hanya itu, ia pun khawatir sedimen dan sisa bongkaran yang belum diangkat dan dibersihkan dari lokasi pekerjaan akan menyebabkan jaringan irigasi tersumbat.
Untuk meminimalisir kemungkinan timbulnya kerugian yang lebih besar yang bisa berakibat jebolnya konstruksi yang baru dikerjakan, petugas Bendung Kosinggolan pun menawarkan solusi untuk terlebih dulu memberikan pelayanan air secara bertahap dimulai dari BKSN (Makaruwo) pada hari itu, dan baru tiga hari setelahnya lanjut memasok air ke BDKN 1 hingga BDKN 10 sebanyak 30%.
Mendengar penjelasan tersebut, Issambri Nasaru menegaskan bahwa pihaknya (petani) tetap mengacu pada hasil kesepakatan yang dibuat pada tanggal 20 Desember 2022. Ia bahkan membeberkan sejumlah point yang disepakati bersama pihak kontraktor saat itu. “Hasil kesepakatan tanggal 20 Desember 2022 adalah: air masuk tanggal 11 Januari 2023; sudah diultimatum item pekerjaan apa saja yang akan dilaksanakan; tidak ada pembongkaran baru pada jaringan irigasi; pekerjaan yang diutamakan adalah pengangkatan dan pembersihan sedimen dan sisa bongkaran dari jaringan irigasi agar dapat dialiri air. Itu kesepakatannya” ujarnya berang sambil menyebut bahwa jika ada kesepakatan baru yang dibuat dan digunakan di luar kesepakatan tanggal 20 Desember 2022 sebagai kesepakatan abu-abu yang yang dibuat secara sepihak oleh oknum-oknum tertentu tanpa ada koordinasi terlebih dahulu dengan para petani.
“Kami hanya mau ada pelayanan air sesuai kesepakatan 11 Januari 2023. Hanya itu. Soal adanya alasan teknis yang bisa mengakibatkan tertundanya pelayanan air kami tidak paham dan tidak mau tahu karena itu bukan ranah kami. Persoalan sedimen dan lain sebagainya bukan urusan kami” tegasnya menyesalkan tidak adanya koordinasi dari para pihak menyangkut informasi penundaan pelayanan air dari jadwal yang sudah disepakati sebelumnya.
Kepada http://detikgo.com, Petugas OP Bendung Kosinggolan Adul Panigoro mengatakan meski hasil inspeksi menyatakan bahwa secara teknis saluran induk belum layak untuk dialiri air namun pihaknya sebenarnya sudah melaksanakan pelayanan air sesuai jadwal yang disepakati oleh petani dan kontraktor yakni sejak Rabu (11/1/2023). Hanya saja, pelayanan air ini masih dilaksanakan secara bergilir dimulai dari BKSN Jalur Makaruwo dengan dengan pertimbangan bahwa lokasi ini dinilai sebagai lokasi yang paling siap saat itu. “Jadi tanggal 11 Januari 2023 pelayanan air sudah dilaksanakan 30% ke BKSN Jalur Makaruwo. Ini dilakukan sambil menunggu kontraktor membersihkan endapan sedimen, sisa bongkaran dan eceng gondok di saluran induk yang diperkirakan bisa selesai 3 hari” terangnya.
Namun, karena desakan petani yang bersikeras menuntut agar pelayanan air segera dilakukan secara full ke semua jaringan saluran induk, maka ia yang kemudian berkoordinasi dengan KDP Kosinggolan Revol memutuskan mengambil kebijakan untuk terlebih dahulu mengalirkan air sebanyak 30% ke semua jaringan saluran induk terhitung sejak tanggal 12-13 Januari 2022 sambil menunggu kontraktor tetap melaksanakan kegiatan pembersihan di lokasi, dengan catatan pintu penguras 5 dibuka untuk membuang sedimen dan eceng gondok. Setelah menempuh langkah itu, Ia pun memastikan pelayanan air sudah bisa dilaksanakan secara full 100% ke seluruh jaringan saluran induk yang ada pada tanggal 14 Januari 2023.
Atas kebijakan yang diambil berdasarkan pertimbangan darurat tersebut, perwakilan kontraktor pelaksana bernama Mickey kemudian memfasilitasi 6 orang untuk membantu Petugas Bendung Kosinggolan membuka pintu air. Sementara itu, baik Ketua IP3A Suwardi K Baderan, Ketua GP3A Thalib Gumer, KDP Kosinggolan Revol, dan Direksi tidak nampak di lokasi Bendung Kosinggolan.





