BOLMONG, detikgo.com – Sejumlah warga Desa Ikhwan, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), mengalami krisis air bersih sejak Kamis (3/7). Air sumur yang mendadak keruh dan berwarna merah kehitaman, diduga akibat limbah penyulingan minyak nilam milik Kepala Puskesmas Doloduo, Telma Yunita Bolang, yang berlokasi di tengah permukiman warga.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran serius atas dampak kesehatan jangka panjang dan kerusakan lingkungan. Tak hanya itu, warga pun mempertanyakan fungsi pengawasan lingkungan oleh pemerintah daerah dan tanggung jawab sosial pemilik usaha kepada masyarakat.
Warga yang kecewa karena laporan yang mereka sampaikan kepada Pj. Sangadi, Sugianto Ngurawan sejak Kamis (3/7) tidak juga membuahkan hasil, kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada detikgo.com, pada Jumat (4/7) dengan menyertakan bukti foto dan rekaman video kondisi air sumur yang tercemar.
Menurut keterangan warga, meskipun pada Kamis malam (3/7) Telma Yunita Bolang telah meminta maaf dan berjanji menyelesaikan masalah, namun hingga saat ini belum ada tindakan nyata di lapangan. “Janji Pak Sangadi dan Bidan Telma tak kunjung terealisasi, sementara kami kesulitan air bersih untuk minum, masak, cuci dan lain-lain” ungkap sejumlah warga sembari meminta agar namanya tidak dipublikasikan demi menjaga hubungan bertetangga dengan keluarga Telma Yunita Bolang dan Gusti.
Selain pencemaran air, warga juga mengeluhkan suara bising mesin potong kayu yang menjadi bahan bakar utama dalam proses penyulingan nilam dan asap yang dihasilkan dari proses penyulingan dari penyulingan yang telah berlangsung lama. “Suara mesin dan asapnya saja sudah sangat mengganggu, apalagi sekarang airnya tercemar. Jangankan untuk minum dan masak, sekedar basuh saja kami takut dan tidak mau ambil resiko karena kondisi air yang sudah berubah warna. Belum lagi timbunan limbah nilam yang menggunung di belakang rumahnya itu, kalau terkena hujan dan tertiup angin akan mengeluarkan bau tidak sedap. Orang dewasa saja terganggu apalagi yang punya anak kecil” ungkap seorang warga.
Warga mengaku enggan menyampaikan langsung permasalahan ini kepada Telma Yunita selaku pemilik penyulingan nilam karena segan dan takut merusak hubungan baik sebagai tetangga, namun dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan tetap nyata mereka rasakan.
Sugianto Ngurawan yang dihubungi detikgo.com, Jumat (4/7) membenarkan adanya laporan warga dan berjanji untuk segera menindaklanjuti laporan tersebut melalui musyawarah yang dijadwalkan Sabtu (5/7) dengan menghadirkan warga terdampak, pemilik penyulingan nilam, dan pengurus BPD. “Hari ini saya masih ada agenda lain, tapi saya pastikan akan menyelesaikan masalah ini Sabtu besok,” jelasnya sambil meminta detikgo.com untuk sementara tidak memberitakan kejadian ini karena akan segera diselesaikan keesokan harinya.
Meski permintaan untuk menunda pemberitaan menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan prioritas penanganan masalah ini, namun karena investigasi masih belum tuntas maka detikgo.com memutuskan untuk melanjutkan investigasi sekaligus berupaya meminta klarifikasi pemilik penyulingan nilam.
Hingga Sabtu pagi (5/7), warga kembali menghubungi detikgo.com untuk menyampaikan kondisi air terkini yang meski belum jernih tetapi sudah mulai berubah warna menjadi kuning terang dibanding kondisi sebelumnya yang berwarna merah cenderung kehitaman.
Kondisi ini tidak lantas menyurutkan keinginan warga untuk menuntut tindak lanjut laporan yang sudah disampaikan kepada Pemerintah Desa melalui Pj. Sangadi Sugianto Ngurawan. Tindakan Sangadi yang terus mengulur-ulur waktu untuk menyelesaikan persolan justru menimbulkan kecurigaan warga soal adanya pembiaran atau kesengajaan untuk tidak menindaklanjuti permasalahan ini karena kondisi air sudah berangsur jernih.
“Permasalahan ini harus tetap diselesaikan. Kalau Sangadi tidak mampu menyelesaikan permasalahan ini maka kami mendesak pemerintah kabupaten untuk ikut menyelesaikan permasalahan ini melalui dinas terkait. Jika perlu hadirkan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan untuk memastikan tata kelola lokasi penyulingan nilam yang sehat dan tidak merugikan warga. Bisa jadi kondisi air yang mulai jernih disebabkan hujan tidak turun selama 2 hari ini. Siapa yang berani menjamin jika nanti turun hujan, kondisi air akan tetap jernih?” ujar warga kesal sambil menambahkan bahwa tindakan Telma yang telah mengunjungi warga dan meminta maaf, serta memberikan bantuan 12 galon air bersih kepada salah satu keluarga yang terdampak, tidak serta merta mengatasi akar permasalahan.
Menanggapi desakan warga, Sugianto Ngurawan yang dihubungi detikgo.com kembali meminta waktu dan berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini melalui musyawarah yang akan dilaksanakan hari Minggu (6/7).
Terpisah, Telma Yunita Bolang yang dikonfirmasi detikgo.com pada Sabtu (5/7), mengakui kepemilikan penyulingan dan menjelaskan pencemaran terjadi karena limbah pupuk yang meresap ke dalam tanah. Ia menegaskan bahwa ini adalah kejadian pertama sejak operasional penyulingan minyak nilam miliknya dimulai beberapa bulan lalu.
Menurut Telma, ia telah mengecor lantai penampungan limbah nilam agar tidak meresap ke dalam tanah, namun tindakan suaminya Gusti yang menghamburkan limbah nilam di sepanjang tanaman vanili yang berada di kebun belakang rumahnya dengan tujuan untuk pemupukan ternyata menyebabkan limbah tersebut meresap ke tanah dan berakibat tercemarnya sumber air bersih milik sejumlah warga dan sumber air bersih di rumahnya sendiri.
Meski mengklaim limbah Nilam tidak berbahaya karena tidak mengandung racun, namun Telma mengaku siap bertanggung jawab. Selain berjanji untuk segera memindahkan timbunan limbah Nilam yang sudah menggunung di halaman belakang rumahnya ke kebun dengan menggunakan alat berat yang saat ini sedang mengerjakan Proyek Desa berupa Galian C di lokasi perkebunan Desa Ikhwan, ia pun bersedia bertanggungjawab jika ada masyarakat yang dirugikan. “Terkait persoalan ini, saya sudah menghubungi Sangadi. Saya pun telah meminta bantuan Sangadi untuk meminjam-sewakan alat berat yang saat ini sedang mengerjakan proyek desa untuk memindahkan limbah nilam sore ini. Ini barusan Sangadi kasih kabar, katanya sore sekali baru alat berat itu akan didatangkan. Dan Kalau ada warga yang dirugikan misalnya menderita gatal-gatal karena air yang tercemar saya siap bertanggungjawab. Akan saya periksa dan memberikan pengobatan hingga sembuh,” ujarnya.
Meskipun sebelumnya sempat beberapa kali meminta detikgo.com untuk tidak memberitakan kejadian ini, namun akhirnya Telma Yunita Bolang menyatakan kesiapannya hadir dalam musyawarah yang direncanakan akan dilaksanakan pada hari Minggu (6/7). “Saya akan siap mengikuti apa maunya masyarakat demi kenyamanan bersama,” tegasnya.
Sementara itu Erni Tungkagi dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bolmong yang dihubungi detikgo.com pada Sabtu (5/7) mengaku bahwa pihaknya sudah beberapa kali menerima pengaduan masyarakat terkait aktivitas penyulingan Nilam yang berada di tengah permukiman warga di sejumlah wilayah di Bolmong. Terkait permasalahan yang terjadi di Desa Ikhwan, ia mengatakan akan menindaklanjuti dengan kunjungan Tim ke lokasi penyulingan Nilam. “Akan kami koordinasikan dulu kepada pimpinan, Insha Allah bisa ditindaklanjuti Senin nanti” pungkasnya.
Berdasarkan informasi warga, hingga Sabtu malam (5/7), belum ada upaya pemindahan limbah sebagaimana dijanjikan oleh Thelma Yunita.
Krisis air bersih di Desa Ikhwan akibat limbah penyulingan nilam bukan hanya masalah sesaat, tetapi menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang bagi kesehatan dan lingkungan. Meskipun air sumur sudah mulai jernih, ketidakpastian akan kualitas air dan potensi pencemaran berulang tetap menjadi ancaman. Kejadian ini mendesak pemerintah Kabupaten Bolmong untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin dan pengawasan usaha penyulingan nilam, khususnya yang beroperasi di tengah permukiman. Perlindungan kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama, bukan hanya janji yang tak kunjung terealisasi.





