Minahasa (detikgo.com) — Akademisi Prof. Ishak Pulukadang menyoroti pembangunan Kota Tondano yang dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan sebagai ibu kota Kabupaten Minahasa, meskipun selama tiga periode terakhir dipimpin oleh kepala daerah dari partai yang sama.
Menurut Prof. Ishak, kepemimpinan tiga Bupati dari partai PDI Perjuangan dimulai dari Alm Drs. Yantje Sayouw, Ir Royke Roring, dan saat ini Dr. Robby Dondokambey belum sepenuhnya menghadirkan perhatian serius dalam menjadikan Tondano sebagai kota maju dan berdaya saing, khususnya di sektor pariwisata, Ujarnya saat menghubungi redaksi detikgo.com, Senin, 13 April 2026.
Pernyataan ini disampaikan oleh Mantan Anggota MPR RI Periode 1999-2024 Prof. Ishak Pulukadang. sebagai bentuk catatan kritis terhadap arah pembangunan daerah, sekaligus dorongan bagi pemerintah Kabupaten Minahasa.
Sorotan ini ditujukan pada perkembangan Kota Tondano sebagai pusat pemerintahan Kab Minahasa dalam kurun waktu tiga periode kepemimpinan terakhir hingga saat ini.
Ia menilai Tondano memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kota wisata multidimensi, baik dari sisi sejarah, budaya, religi, hingga sumber daya alam. Namun, potensi tersebut dinilai belum dimaksimalkan secara optimal.
Prof, Ishak memaparkan sejumlah keunggulan Tondano, di antaranya:
Kota awal “Torang Basudara”, sebagaimana pernah disampaikan mantan Gubernur Sulawesi Utara, Jenderal AE Mangindaan.
Pusat awal nation and character building, menurut Prof. Dr. A.E. Sinolungan, mantan Rektor Universitas Negeri Manado (Unima).
Tondano juga sebagai Kota perintis perjuangan kemerdekaan, yang sejarahnya bahkan mendahului Perang Diponegoro dan Perang Paderi.
Destinasi wisata religi, sebagai titik awal masuknya agama Kristen oleh Pendeta Riedel (1831) dan Islam oleh Kyai Modjo bersama pengikutnya pada Tahun 1830, yang sekaligus menjadi fondasi kerukunan antarumat beragama.
Tondano juga bisa disebut Kota pelopor pertanian sawah, yang diperkenalkan oleh Kyai Modjo dan 55 pengikutnya saat masa pengasingan di Tondano, sebagaimana dicatat Residen Manado pada tahun 1830.
Tondano juga sebagai Kota air, sesuai asal nama “Teundano” atau “orang air”, yang berada di tepian Danau Tondano serta menjadi hulu Sungai Tondano dan sumber energi listrik di wilayah tersebut.
Dalam pandangannya, pengembangan Tondano perlu dilakukan melalui kolaborasi strategis dengan daerah lain yang memiliki keterkaitan historis dan budaya. Ia pun mengapresiasi langkah Bupati Robby Dondokambey yang telah menjalin kerja sama dengan salah satu kota di Bali.
Namun demikian, ia juga menyarankan agar kerja sama diperluas ke kota-kota seperti Yogyakarta dan Surakarta. Hal ini dinilai relevan secara historis, mengingat Kyai Modjo tokoh penting dalam Perang Diponegoro memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Yogyakarta dan Keraton Surakarta.
Bahkan, hubungan tersebut telah terjalin melalui kunjungan Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam peringatan ulang tahun Kampung Jawa Tondano, serta silaturahmi keluarga Keraton Surakarta dengan komunitas Jawa Tondano di Masjid Agung Kyai Modjo.
Prof. Ishak berharap, dengan potensi sejarah, budaya, dan sumber daya alam yang dimiliki, Tondano dapat dikembangkan menjadi kota wisata unggulan yang tidak hanya dikenal di tingkat regional, tetapi juga nasional.(Red)





